Nama Penulis : Ilham Masda Priotomo
Gender : Semua Umur
Judul : Penjual minyak wangi
Pada saat itu adalah bulan ramadhan
dan pada hari itu aku sedang duduk-duduk di kamar sendirian, kalau dikatakan
galau mungkin itu tidak pas karena pada saat itu aku sedang tidak galau, tetapi
aku sedang kelaparan karena puasa. Minyak…minyak…minyak wangi mas, terdengar
suara bunyi penjual minyak wangi sedang menawarkan barangnya, saat itu si
penjual sedang menawarkan dagangannya kepada temanku yang ada di kamar sebelah.
Tanpa pikir panjang aku langsung
keluar dari kamar dan bergegas menuju kamar tempat dimana penjual minyak wangi
tersebut menawarkan barang dagangannya. Saat itu pembelinya tidak banyak,
mungkin wajar karena hari itu adalah tanggal tua, atau hari dimana jarang anak
yang mempunyai uang, namun penjual tersebut tetap memasarkannya kepada
teman-teman, ya maklum namanya juga usaha.
Karena saat itu aku lagi gak ada
kerjaan alias nganggur aliasnya lagi nganggur, akhirnya aku mempunyai ide untuk
mengerjai si penjual minyak wangi tersebut. Dengan biasa akhirnya aku menemui
si penjual minyak dan bertanya- tanya. Kan aku ini orang jawa jadi kalau
manggil nama penjual atau apalah pasti dengan kata “cak”, kali ini aku ingin
bertanya harganya dulu. “ cak harganya minyak wanginya berapa? ” penjual itupun
langsung menjawab “ yang mana dulu yang kecil atau yang besar?”, akupun
bertanya lagi, padahal aku sebenarnya tidak mau membelinya “kalau yang besar
cak, berapa harganya?” dengan mengangkat botol besar yang aku tunjuk tadi si
penjual langsung menjawab ini “oalah yang besar to, kalau yang besar sih 25.000
aja”. Karena kurang puas aku bertanya rasanya satu per satu “cak yang ini rasa
apa?”, penjual tersebut langsung menjawab “rasa melon, mau beli ya?”, karena ditanya
akupun langsung berfikir bagaimana caranya menghindar agar tidak membelinya
karena kondisi keuanganku sedang krisis, akhirnya karena waktu itu bulan
ramadhan akupun menjawab “wah gak jadi cak aku sebenarnya mau beli, karena ini
bulan puasa kan gak boleh makan melon gak jadi deh cak”. Orang-orang yang
melihat di sekitarku langsung tertawa ketika aku bilang puasa. Sebenarnya aku
gak enak di hati bilang begitu, tapi apa boleh buat namanya juga nasi sudah
menjadi bubur. Karena mungkin tersinggung si penjual diam saja dan aku langsung
bertanya lagi dengan nada bercanda “cak kalau botol yang ini nemunya di tempat
sampah mana cak?”, si penjual minyak tersebut diam saja dan tersenyum sedikit,
karena aku merasa gak enak karena merasa telah menyakiti hati si penjual
tersebut, akhirnya akupun membeli minyak wangi tersebut, minyak wangi yang ku
beli tersebut berhaga 10.000 dengan ukuran botol sedang. Penjual itupun
bertanya kepadaku “pilih rasa apa ?”, akupun lansung menjawab dengan dua rasa
yaitu rasa permen karet dan rasa melon. Tapi temanku memberitahuku untuk
menambah rasa lagi yaitu rasa apel.
Setelah aku membeli minyak wanginya penjual
minyak wangi tersebut langsung berkata “Alhamdulillah tidak sia-sia aku
disini”. Akhirnya penjual tersebut keluar dari kamar dengan wajah yang penuh
dengan kegembiraan.



0 comments:
Post a Comment