Supported by Ilham Masda Priotomo
[tutup]

Pengunjung

Saturday, May 18, 2013

Cerita seorang Penjual minyak wangi


Nama Penulis : Ilham Masda Priotomo
Gender          : Semua Umur
Judul              : Penjual minyak wangi


            Pada saat itu adalah bulan ramadhan dan pada hari itu aku sedang duduk-duduk di kamar sendirian, kalau dikatakan galau mungkin itu tidak pas karena pada saat itu aku sedang tidak galau, tetapi aku sedang kelaparan karena puasa. Minyak…minyak…minyak wangi mas, terdengar suara bunyi penjual minyak wangi sedang menawarkan barangnya, saat itu si penjual sedang menawarkan dagangannya kepada temanku yang ada di kamar sebelah.
            Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari kamar dan bergegas menuju kamar tempat dimana penjual minyak wangi tersebut menawarkan barang dagangannya. Saat itu pembelinya tidak banyak, mungkin wajar karena hari itu adalah tanggal tua, atau hari dimana jarang anak yang mempunyai uang, namun penjual tersebut tetap memasarkannya kepada teman-teman, ya maklum namanya juga usaha.
            Karena saat itu aku lagi gak ada kerjaan alias nganggur aliasnya lagi nganggur, akhirnya aku mempunyai ide untuk mengerjai si penjual minyak wangi tersebut. Dengan biasa akhirnya aku menemui si penjual minyak dan bertanya- tanya. Kan aku ini orang jawa jadi kalau manggil nama penjual atau apalah pasti dengan kata “cak”, kali ini aku ingin bertanya harganya dulu. “ cak harganya minyak wanginya berapa? ” penjual itupun langsung menjawab “ yang mana dulu yang kecil atau yang besar?”, akupun bertanya lagi, padahal aku sebenarnya tidak mau membelinya “kalau yang besar cak, berapa harganya?” dengan mengangkat botol besar yang aku tunjuk tadi si penjual langsung menjawab ini “oalah yang besar to, kalau yang besar sih 25.000 aja”. Karena kurang puas aku bertanya rasanya satu per satu “cak yang ini rasa apa?”, penjual tersebut langsung menjawab “rasa melon, mau beli ya?”, karena ditanya akupun langsung berfikir bagaimana caranya menghindar agar tidak membelinya karena kondisi keuanganku sedang krisis, akhirnya karena waktu itu bulan ramadhan akupun menjawab “wah gak jadi cak aku sebenarnya mau beli, karena ini bulan puasa kan gak boleh makan melon gak jadi deh cak”. Orang-orang yang melihat di sekitarku langsung tertawa ketika aku bilang puasa. Sebenarnya aku gak enak di hati bilang begitu, tapi apa boleh buat namanya juga nasi sudah menjadi bubur. Karena mungkin tersinggung si penjual diam saja dan aku langsung bertanya lagi dengan nada bercanda “cak kalau botol yang ini nemunya di tempat sampah mana cak?”, si penjual minyak tersebut diam saja dan tersenyum sedikit, karena aku merasa gak enak karena merasa telah menyakiti hati si penjual tersebut, akhirnya akupun membeli minyak wangi tersebut, minyak wangi yang ku beli tersebut berhaga 10.000 dengan ukuran botol sedang. Penjual itupun bertanya kepadaku “pilih rasa apa ?”, akupun lansung menjawab dengan dua rasa yaitu rasa permen karet dan rasa melon. Tapi temanku memberitahuku untuk menambah rasa lagi yaitu rasa apel.
            Setelah aku membeli minyak wanginya penjual minyak wangi tersebut langsung berkata “Alhamdulillah tidak sia-sia aku disini”. Akhirnya penjual tersebut keluar dari kamar dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan.

0 comments: